7 Agustus 2008, 10 hari lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan bangsa kita, Bangsa Indonesia.

Sang Proklamator
Sayangnya, bukan itu yang mau gw tulis kali ini (jangan kecewa ya…
).
Karena banyak yang tanya ke gw tentang interview di Detikcom, jadi tulisan kali ini tentang interview gw di Detikcom.
Kamis, 6 Agustus 2008, gw menjalani interview di PT. Agrakom Multicitra Siberkom (Detikcom). Sebelum gw diinterview, gw disuruh mengisi form yang diberikan oleh Pak Nanang. Isian tersebut tentang biodata, gaji dan fasilitas harapan, dan ada isian untuk menuliskan 20 kalimat yang mencirikan kepribadian, dll. Sekitar 1 jam gw baru dapat menyelesaikan form tersebut. (Banyak lho…)
Selanjutnya, dua orang interviewer disediakan oleh Detikcom untuk “menghadapi” gw. Hehehe… Mereka adalah…
- Bu Rohalina (HRD)
- Pak Aziz (Senior progammer)
Kesan pertama siy, santai2 aja… Maklum kedua interviewer tersebut masih terlihat muda bagi gw. Setelah memperkenalkan diri, beliau langsung “to the point”. Pertanyaan yang muncul di ronde-ronde awal bukan mempertanyakan kepribadian gw. Pertanyaan tersebut langsung ke hal-hal teknis seputar keahlian gw, pengalaman kerja, dan tentang JAVA dan PHP. Bahkan ada pertanyaan tentang e-business yang dijalankan oleh Detikcom. Wow… Gw ga gitu ngerti… Tapi tetep gw jawab sesuai yang gw tahu. Pertempuran semakin alot,, Bu Rohalina memtutuskan untuk pindah ke ruangan yang lebih luas. (Oooo… jadi tambah seru niy…)
Bu Rohalina memang paling banyak bertanya, tapi bagi gw pertanyaan yang sulit dijawab, lebih sering dilontarkan oleh Pak Aziz. Beliau sempat bertanya tentang arsitektur detik.com, database apa yang cocok untuk detik.com, bahkan beliau bertanya berapa lama waktu tempuh dari rumah gw ke kantor Detikcom (Yang paling susah niy… hehehe…).
Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan beliau-beliau, ada satu pertanyaan yang membuat gw berpikir cukup lama dan bener2 membuat bimbang hati gw.
Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Pak Aziz. Berikut pertanyaannya :
“Kalau Anda dihadapkan pada suatu kondisi dimana Anda harus memilih satu pilihan, Apa yang Anda pilih, JUJUR atau SETIA KAWAN?”
(Loading….) Ehm…
(Loading…) Ehm…
(Loading…) Ehm… Lagi…
Gw jawab, “tergantung kondisi”.
Terus gw tanya, “Kondisi awalnya apa Pak?”.
Beliau bilang, “Tak ada kondisi awal. Pilih aja salah satu…”.
Gw pegangan de… alias bingung.
Yang ada di kepala gw saat itu, adalah “white lies“. Jadi, gw ambil kesimpulan bahwa kita tidak harus selalu jujur. Kadang kebohongan itu menjadi suatu hal yang benar untuk dilakukan. Jadi, jawaban pertama gw adalah SETIA KAWAN. Tapi,
Pak Aziz seolah-olah mencoba membuat gw untuk merubah jawaban. Hingga akhirnya gw berada dalam modus loading lagi,,
(Loading….) Ehm…
(Loading…) Ehm…
(Loading…) Ehm… Lagi…
Selanjutnya, dengan mengendarai ojek, sang ide melintas cepat di dalam pikiran gw. Ide tersebut menyarankan gw untuk melihat Subjek yang bertanya. Iya,, Tepat sekali… Yang bertanya adalah Pak Aziz,, Sang Senior Programmer…
Trus apa hubungannya??
Ya adalah…
Dalam mengembangkan perangkat lunak, Pak Aziz tentunya bekerja dalam sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang sebagai rekannya.
Lalu…
Nah, bekerja dalam sebuah tim tentunya menginginkan kekompakkan dan ke-SETIA KAWAN-an. That’s the point…
Akhirnya,, gw memilih SETIA KAWAN sebagai pilihan gw…
Akhirnya Pak Aziz hanya tersenyum saja… Apa artinya??? Masih menjadi misteri bagi diri gw…
Ok, kurang lebih seperti itu ceritanya. Semoga bermanfaat,,,
Untuk pertanyaan JUJUR atau SETIA KAWAN, bisa saja jawabannya berbeda antar individu. Jadi jawaban gw itu tidak berarti benar ataupun salah.